Move Up (Part1)


Panggil aku Sara, seorang wanita yang sangat mencintai dunia. Aku mengejar kebahagiaan dalam hidup. Apa yang kuraih tidak akan pernah cukup, tak pernah merasa puas dan terus mengejar hal-hal lainnya. Usiaku yang baru tujuh belas tahun sudah melalang di dunia shabu-shabu, putaw, inex dan sejenisnya. Aku bebas. Sebebas-bebasnya. Aneka jenis rokok dari yang khas kuli hingga rokok berkelas hampir semua pernah mampir di mulut dan tenggorokkanku. Orang tuaku tidak terlalu ikut campur kehidupan anak gadisnya. Kepedulian mereka tunjukkan dengan tidak pernah absen mengirimi putrinya uang dalam jumlah besar. Itu sebabnya aku pun memilih lingkungan dan pergaulan yang sejajar denganku.Mereka yang juga suka berbelanja, menikmati makanan mewah atau sekadar nongkrong mendengarkan live music.

Aku mulai menjalani hari-hari berpakaian minim bahan, mendatangi cafe atau tempat menghampiri para lelaki dengan hangatnya.
"Hai, Ra, mau barang nggak?"
"Eh, nggak. Lagi nggak pingin."
"Ok. Aku langsung ke yang lain ya?" "Ya."Seperti inilah dunia yang terasa asing bagi kaum awam. Orang melihat dia juga tidak akan menyangka dia seorang pengedar. Tampangnya biasa. Kayak anak muda jakarta pada umumnya. Terkadang kala ketemu diluar klub dia malah terlihat layaknya pemuda bersih.

Aku terus berpikir. Bagaimana pun aku terlanjur memiliki otak yang memaksaku untuk berpikir. Tapi mungkin nafsuku yang sedang memegang kendali. Ya. Aku pun mulai merasa jijik berada di tempat seperti ini. Ketika otak serasa dicabut dari kepala oleh suara musik yang begitu keras. "Hai. Iya benar. Gimana?
Dari mana Anda tahu nomor saya?
Oh. Coba saya pikirkan dulu.
Terima kasih. Bye." Telepon seperti ini semakin menghilangkan status manusiaku. Aku tidak langsung menerimanya.

"Hey,Ra. Udah dari tadi di sini?"
"Eh,Li. Ya lumayan. Dari mana baru datang?"
"Ada perlu di kampus tadi. Ada kabar apa nih?"
"Nggak ada. Oh ya. Barusan ada yang telepon katanya dapat nomor darimu. Siapa?"
"Dari partai politik bukan?"
"Nggak tau. Nggak tanya."
"Kemarin aku kasih nomor kamu ke om-om partai besar. Katanya dia butuh cewek highclass buat menjamu penggede dari provinsi lain. Nah, dia ga mau sama aku. Dia nyari yang kebih tinggi kelasnya karena tamunya punya kedudukan jadi orang penting. Ya sudah, kan cuma kamu yang super istimewa di kota ini."
"Kok diem. Kenapa? Kamu nggak mau?" "Nggak tau. Li. Aku sering berpikir dan melamun. Tiba-tiba aku merasa...kotor..."
"Hmm, ada yang salah sama kamu,Ra? Kenapa tiba-tiba kamu kayak gini?" Lili tampak bingung.

Jangankan Lili. Aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang sedang aku rasakan sekarang.

Comments

  1. Wuah cerita bersambung ya?
    Siap menanti kelanjutannya.

    Btw, kenapa paragrafnya padat banget ya? Need mo spasi kayaknya.

    ReplyDelete
  2. Wahhh~ kisah yang mungkin terjadi pada zaman ini loh.

    Good idea ka! :)

    Semangat! Salken dari Iput, newbie! :)

    ReplyDelete

Post a Comment