Alat Anugerah dari Allah


Kenyataan yang hanyalah kejadian. Ia tak menjadi apa-apa jika tak di olah menjadi pemahaman. Sebab manusia adalah makhluk makna, yang bergerak karena pikiran dan perasaannya. Maka tiap kejadian atau kenyataan hanyalah netral belaka. Fungsi pikiran dan rasa yang kemudian menjadikan atau membahagiakan, membangkitkan atau meluruhkan semangat. Sebab keduanya terbelenggu tak berdaya. Pikir dan rasa mesti berada dalam kendali sendiri. Jika tidak, maka sebaliknya yang segera terjadi diri akan dikendalikan olehnya. Karena hukum alam mengajarkan bahwa segala yang tak dikendalikan bisa mengendalikan kita.

Maka bahagia dan sedihmu memang bukan terletak pada apa yang menjadi menimpamu atau apa yang dimiliki. Ia tergantung pada pikir dan rasa yang kau tetapkan kala ia terjadi. Karenanya pilihan pikir dan rasa memang tak hanya satu. Ia banyak, sebanyak yang kau bisa bayangkan. Jika kau terpaku pada yang satu, itu pilihanmu. Jika diri terbuka pada apa yang banyak itupun pilihan kita sendiri. Pikir dan rasa adalah alat semata yang Allah anugerahkan untuk menikmati kenyataan. Menikmati setiap kejadian dalam beragam warna. Satu kali dengan sejenis pikir, kali lain dengan jenis yang lain.

Pada mereka yang hidup bergelimang kemewahan batin. Rupanya memang memiliki banyak pilihan pikir dan rasa. Hingga ia mudah bangkit kala terpuruk, mudah menunduk kala sedang tinggi. Setiap rasa adalah guru. Oleh sebuah rasa, pikir terarahkan dan langkah tergerakkan. Para insan jernih seringkali mencermati rasa yang dimiliki setiap kalau ada prilaku yang tak layak atau yang layak namun tak kunjung diwujudkan. Maka tak ada rasa yang salah apalagi buruk. Setiap rasa jika ia ada dalam diri ini. Pastilah ia memiliki manfaat. Sebab bukankah tiada sebuah ciptaan pun yang lahir dengan sendirinya hingga tersia-siakan?

Tentu, segala yang berlebih tanpa kendali akan kehilangan manfaatnya. Begitu pun dengan kesedihan serupa. Pada dosis yang tepat, ia obat. Selebihnya, ia mudarat.

Maka cukupkan kau jadikan kesedihan sebagai nikmat namun jangan sampai larut di dalamnya. Segala rasa sejatinya bukan menggenggammu, melainkan berada dalam genggamanmu.

Comments